Perbedaan itu Indah

Melihat kenyataan di Indonesia mulai banyak terjadi tindakan anarkis yang membawa nama agama, membuat aku pribadi merasa miris dan sedih mengingat bahwa agama manapun pastinya tidak mengajarkan kekerasan dan menyuruh umatnya untuk mencelakai sesamanya.
Siapa orang yang tega menyerukan nama Tuhan dengan bukan membawa kitab suci ditangan kanannya melainkan membawa parang? Bahkan dia tidak pantas disebut sebagai manusia, aku rasa.

Aku merasa beruntung mendapatkan suatu bekal yang baik untuk menjalani kehidupan dengan materi Character Building (CB) yang aku terima di perkuliahan. Materi yang aku terima kali ini tentang relasi manusia dengan Tuhan, didalamnya menjelaskan mulai dari bagaimana kita mendeskripsikan Tuhan hingga mengimani kebenaran yang diajarkan Tuhan. Dari materi ini jugalah saya mempelajari cara yang terbaik untuk menghindari konflik dengan latar belakang keyakinan ini, yaitu dengan berdialog. Berdialog dapat ditempuh dengan 4 cara, yaitu:
  1. Dialog kehidupan sehari-hari: Belajar saling mencontoh kebaikan satu sama lain

  2. Dialog melakukan pekerjaan sosial : Bekerja sama dengan agama-agama lain untuk mengerjakan proyek-proyek kemanusiaan

  3. Dialog pengalaman keagamaan: Saling memperkaya penghayatan nilai-nilai kerohanian melalui berbagi pengalaman doa, meditasi, dsb.

  4. Dialog pandangan teologis: Dilakukan oleh ahli-ahli agama untuk saling berbagi pemahaman nilai-nilai rohani masing-masing agama

Dialog tersebut diharapkan bukan untuk menentukan agama mana yang benar dan agama mana yang salah, melainkan untuk menemui satu titik dimana tidak hanya terjadi ko-eksistensi melainkan juga pro-eksistensi. Pro-eksistensi ini sendiri suatu keadaan dimana manusia tidak hanya menghantarkan manusia kepada sikap bahwa tiap agama berhak untuk bereksistensi tetapi juga mengakui dan mendukung (dalam arti bukan menyamakan) semua agama.

Dalam konteks lain ada yang disebut dengan dialog inter-agama, dimana dialog ini diadakan untuk saling bertukar pikiran tentang persepsi yang berbeda-beda atas satu kitab suci yang sama. Jika terdapat persepsi yang melenceng diantara mereka, lakukan dialog untuk meluruskan ke arah kebenaran Tuhan, bukan malah ditindak kekerasan seperti yang terjadi pada beberapa kasus di Indonesia. Seperti kata Tompi, dr. ahli bedah sekaligus penyanyi, di akun twitternya "Kalo memang itu dianggap sesat dan terbukti maka dirangkul utk diluruskan, bukan dipeluk utk dibunuh"





Sadarilah bahwa perbedaan itu indah, dan bayangkan jika Indonesia yang kaya akan seni, budaya dan dengan keragaman agama ini memiliki masyarakat yang hidup berdampingan dengan damai..

Bahan diambil dari materi Character Building 3 "Relasi dengan Tuhan"

Apa Yang Sebenarnya Diinginkan Oleh Pak Tiff?

Aku sadar bahwa dunia maya memiliki kekuatan yang besar, kekuatan yang bisa membantu kita para penggunanya untuk membuka mata kita terhadap banyak masalah diluar sana. Yang baru-baru ini terjadi adalah konflik antara Menkominfo kita tercinta, Bpk Tiffatul Sembiring, dan banyak pengguna twitter di Indonesia. Aku sendiri agak bingung sebenarnya apa inti dari masalah yang muncul di Timeline twitter waktu itu, tentang masalah konten porno di Blackberry atau RIM yang belum dibuka di Indonesia? sampai akhirnya aku mendapatkan sebuah pembahasan menarik di kaskus yang menjelaskan tentang semua ini di link: alasan blokir BB dr Segi IT . Kalian harus membaca thread tersebut terlebih dahulu. Dari thread tersebut aku merasa benar-benar ada yang janggal dari dua sumber masalah yang Pak Tiff utarakan, seperti dua hal tersebut tidak saling berkaitan. Sebenarnya apa yang Pak Tiff inginkan? tujuan yang 100% mulia, atau... Ya, kita lihat saja nanti :)