Hanya dari Trending Topics..

Lagi-lagi jaringan sosial dibahas di dalam blog aku ini. Jaringan sosial memang sedang menjadi item tercanggih, tercepat juga terpopuler yang tentunya sudah menjamur dan digunakan oleh segala kalangan. Kali ini aku melihat Jejaring Sosial dalam sisi edukasi, mungkin aku memang bukan pengamat yang profesional atau lulusan S3 yang pantas berkomentar dengan menggunakan teori ini itu, tapi aku rasa logika saja setidaknya cukup untuk mencerna apa yang akan aku bahas.

Belakangan ini sering kali aku lihat banyak topik perbincangan bahkan headline di TV, Radio, Koran dan media massa lainnya yang diangkat berdasarkan trending topics di jejaring sosial terutama facebook dan twitter. Tapi sadar atau tidak sadar, semua topik perbincangan itu akan menjadi sebuah siklus berputar dan akan hilang saat pengkonsumsi berita merasa bosan.

kira-kira siklus penyampaian topik seperti ini menurut saya:

oknum berkepentingan ⇒ komunikan ⇒ trending topics ⇒media massa ⇒ komunikator ⇒ media ⇒ komunikan (ditambah-tambahkan lagi oleh org yg berkepentingan) ⇒ trending topics , dst.

Biar aku jelaskan, isu diawali sebenarnya dari yang berkepentingan, yang entah butuh popularitas, butuh sebagai alat menjatuhkan pesaing/lawan, atau butuhh uang. Kemudian isu tersebut disampaikan melalui mulut kemulut atau melalui media visual sebagai yang termudah dan sangat otentik. Pastinya kelanjutan bisu tersebut ditentukan oleh komunikas sebagai pengkonsumsi berita, apakah mereka tertarik atau tidak. Jika tertarik dan menurut mereka penting, tentunya isu tersebut akan terus dibahas dan menjadi trending topics ketika melebihi batas mention yang wajar. Saat menjadi trending topics inilah sebuah isu akan menjadi perhatian media massa yang nantinya disampaikan oleh komunikator kembali kepada komunikan. Setelah kembali kepada komunikan, isu tersebut akan di tambah-tambahkan oleh orang yang berkepentingan, yang biasanya 'menyamar' sebagai sesama komunikan. dan siklus terus kembali berputar dan akan berhenti disaat komunikan bosan dengan isu tersebut atau setelah terjadi klarifikasi dari orang-orang yang bersangkutan mengenai kebenaran/fakta dari isu tersebut.

Dari siklus yang aku sampaikan, aku menyebut pesan yang disampaikan sebagai isu, mengapa? karena sepanjang siklus berjalan isu tersebut tidak selamanya terdapat fakta yang akurat terlebih dari orang yang terkait. Ironis memang menyadari bahwa orang Indonesia atau bahkan sebagian besar manusia begitu mudah percaya terhadap suatu isu.

Dari siklus itu pula aku dapat mengatakan bahwa jejaring sosial adalah tempat termudah bagi manusia untuk menerima pesan, memprosesnya dan mengambil tindakan setelahnya hanya dengan mengakses jejaring sosial. Berarti bisa aku simpulkan juga bahwa jejaring sosial memang cara termudah untuk mengajarkan sesuatu.

Jejaring sosial sekaligus cara terburuk untuk belajar, mengapa? aku sendiri sebagai pengguna Twitter bisa dengan jelas melihat efek buruk dari penyebaran isu melalui jejaring sosial. Seperti yang sangat kita tahu pemberitaan video porno oleh seseorang yang mirip beberapa artis ternama adalah contoh dari siklus yang aku jelaskan diatas sekaligus contoh isu yang memberikan efek buruk. Nyatanya pengguna twitter tidak hanya orang dikalangan umur 17+, banyak juga anak sekolah dasar yang memiliki akun Twitter, dan pastinya mereka juga melihat pemberitaan isu tentang video porno itu di trending topics. Ada besar sekali kemungkinan mereka merasa penasaran, mencari tau tentang video tersebut, atau beropini tentang video tersebut yang menyebabkan mereka memperbincangkan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan umurnya.

Ya.. Dari situ, sadar atau tidak kita-kita juga yang membodohi generasi para penerus Bangsa Indonesia.. Hanya dari sebuah trending topics..

3 comments:

eka pradnyana said...

wajar kalau kalau suatu berita akan menjadi treding topic
lumayan untuk mencari sensai orang orang nya
hampir setiap orang tidak memperdulikan baik buruknya dari adanya situs jejaringan sosial di san sini

seandainya jejaringan sosial tidak adapun,tingkat sosialisasi antar sesama mungkin akan turun
memberi contoh yang baik seperti mba lakukan merupakan salah satu hal penting yang sangat di butuhkan,agar user tidak terlampau nikmat mnggunakannya

gema antartika said...

berita itu seharusnya fakta bukan sebuah pendapat atau bahkan opini... (gak nyambung)

ratih pradnyana said...

nyambung kok ka, itu dia, jurnalis sekarang gak kenal kode etik jurnalistik lagi, jadi keaslian berita kadang diragukan

Post a Comment